Wednesday, January 27, 2010

Air traffic control (lapangan terbang)

>> download file powerpoint mengenai air traffic control <<

Air traffic control (lapangan terbang)

Welcome to Indonesia ATC

Selamat datang dan bergabung dengan ATC divisi Indonesia
Melalui tutorial ini anda akan belajar semua materi yang dibutuhkan selama bertugas menjadi ATC
Jika anda mengalami kesulitan, silahkan bertanya dengan para divisi staff, selain itu anda diharpkan banyak berlatih dan membaca materi-materi lainnya
Akhir kata “HAPPY CONTROLING” 

Apa Itu ATC 

ATC merupakan singkatan dari Air Traffic Control yang memiliki tugas utama
•Separating Traffic
Separating traffic berarti memisahkan pesawat baik pesawat di ground, departing, arriving, maupun enrouting
Melalui tutorial ini anda akan belajar bagaimana memisahkan traffic dengan benar untuk menghindari collision atau tabrakan
 
ATC terbagi menjadi beberapa bagian :
•Devivery
•Ground
•Tower
•Approach / TMA (Terminal Area)
•Center


Clearance Delivery atau Delivery merupakan bagian ATC yang bertugas memberikan izin atau delivery bagi pesawat untuk terbang dari suatu tempat ke tempat lain. Selain itu delivery juga memastikan flight plan sudah benar dan sesuai dengan aturan yang ada (SOP maupun general rules)
Delivery memegang pernanan yang sangat penting bagi posisi ATC berikutnya karena delivery mengatur semua bagaimana posisi ATC berikutnya menghandle pesawat tersebut


Ground
Ground memiliki 2 tugas :
1.Memastikan pesawat taxi dengan aman baik dari maupun ke runway
2.Melakukan sequencing terhadap traffic. Ingat, bahwa tugas ATC adalah melalukan separasi. Sebagai contoh, ada 2 pesawat menuju Surabaya, dan 1 pesawat menuju Semarang. Akan sangat membantu controler berikutnya apabila anda mengatur urutan taxi hingga pesawat line up di runway dengan urutan tujuan Surabaya, Semarang, Surabaya


Tower : tower sebenarnya memiliki beberapa tugas, tetapi tugas utamanya adalah mengatur departure dan arrival dengan memberikan take off dan landing clearance. Selain itu tugas tower adalah memberikan traffic advisories dan mengatur traffic VFR selama departing dan circuit dan landing.
Approach bertugas untuk mengatur traffic :
•Departing : mengatur pesawat yang berangkat dari suatu airport sampai masuk ke airway yang sudah menjadi bagian dari Center Controler. Approach mengatur traffic bisa dengan SID yang sudah ada, memberikan vector, dan altitude clearance. Selain itu approach juga bertanggung jawab untuk menambah separasi untuk departing traffic sebelum masuk ke bagian enroute.
•Arriving : bertugas mengatur pesawat yang akan mendarat di suatu bandara dari Center. Approach akan memberikan runway in use dan approach apa yang akan mereka gunakan (ILS, VOR, visual, etc). Approach mengatur traffic dengan memberi vector maupun altitude clearance.

Center memiliki area control yang sangat luas. Mengatur traffic departing, arriving, maupun overflight.
Departure traffic diterima dari Approach dan separasi ditambah. Jika pesawat tujuan ada di area Center lainnya, separasi harus dipastikan cukup dan di hand off ke posisi controler berikutnya.
Arrival traffic diterima dari Approach maupun Center lainnya diberikan descend instruction dan STAR setelah itu di hand off ke Approach untuk mendarat ke bandara tujuan
Overflight traffic diatur oleh Center agar tidak tabrakan dengan pesawat lainnya.
Center membutuhkan banyak perhatian dan ketelitian karena areanya yang luas dan banyaknya traffic yang dicontrol serta aturan yang ada. Kesalahan sedikit pada sebuah pesawat dapat merusak traffic flow yang normal. 

Delivery, Ground, dan Tower merupakan posisi 
non radar, jadi tidak dapat memberikan 
radar vector.

Approach dan Center dapat terdiri dari beberapa
  bagian dan sector dengan pembagian tugas dan
  area tertentu.
Cara ATC berbicara

  pada pilot tidak sembarangan, ada aturan yang

perlu ditaati atau yang disebut juga
  “phraseology”. Semua ATC kura
ng lebih menggunakan aturan yan
g sama dalam memberikan instruksi  
pada traffic.
Berikut akan diberikan contoh bagaimana
  perjalanan pesawat dari Jakarta ke Sur
abaya dengan komunikasinya dengan ATC. 

Komunikasi pilot diberikan dengan warna merah
  dan komunikasi ATC dengan warna
  biru.Perhatikan phraseology untuk
  bagian ATC.


Pertama pilot berada di gate setelah mengirim
  Flight Plan akan mengcontact Delivery untuk
  meminta izin atau clearance delivery ke Juanda, 

Surabaya

Soeta Delivery, Indonesia 123 with information 
Alpha request IFR clearance to Surabaya as filled 
flight level 350

Indonesia 123, clear to Surabaya as filled, maintain 
5000 expect flight level 350, follow Purwakarta 2 
departure, squawk 2201

Clear to Surabaya as filled flight level 350, follow  
Purwakarta 2 departure, squawk 2201, Indonesia 
123

Indonesia 123, readback correct, contact ground at 
121.6 for push and start

Sekarang pilot akan meminta clearance untuk 
push and start dan taxi ke active runway
Soeta ground, Indonesia 123 at gate F41 ready 
for push and start
Indonesia 123, push and start is approved nose 
facing taxiway NC3

Push and start approved nose facing taxiway 
NC3, Indonesia 123
Ground, Indonesia 123 ready for taxi
Indonesia 123, taxi to holding position N6 
runway 7L via NC3 NP2

Taxi to holding position N6 runway 7L via NC3 
NP2, Indonesia 123

Ketika pesawat mendekati runway
Indonesia 123, contact tower at 118.75
Contact tower at 118.75

 
 
 




 




Sunday, January 24, 2010

tugas kuliah dan kisi2 ujian mata kuliah lapangan terbang

tugas kuliah banjir (Air control system) dan kisi2 ujian mata kuliah lapangan terbang






klik gambar agar lebih besar






klik gambar agar lebih besar

Monday, December 28, 2009

Kuliah dan silabus Banjir 1

Slide 2
• ini file power point mengenai banjir download link berikut ini:


http://www.4shared.com/file/183730959/704c887d/PSDA_10_Banjir.html



Apa definisi banjir?
•Apa penyebab banjir?
•Apa saja jenis-jenis banjir yang ada?
•Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi banjir?
•Apa saja dampak banjir?
•Bagaimana cara memperkirakan banjir?
•Bagaimana merencanakan perlindungan terhadap bahaya banjir? 

Slide 3
Definisi Banjir

Slide 3
Chow (1956): “A flood is a relatively high flow which overtaxes the natural channel provided for runoff.”
•Rostvedt et al. (1968):”A flood is any high streamflow which overtops natural or artificial banks of a stream.”
•Ward (1978): “A flood is a body of water which rises to overflow land which is not normally submerged.” 


  Slide 4
jenis banjir:
–- Banjir di sungai (river floods)
•   Terjadi pada bantaran
•   Terdapat debit yang melebihi kapasitas
–- Banjir di derah pantai (coastal floods)
•   Penggenangan oleh air laut akibat dinamika air laut (pasang surut, badai) 



Pengurangan dampak banjir


Slide 8
Mengurangi debit puncak Reservoir
2.Membatasi area pergerakan air >Tanggul Banjir
3.Mengurangi elevasi muka air banjir > Perbaikan saluran
4.Pemindahan aliran > Kanal Banjir
5.Floodproofing
6.Pengurangan limpasan > Manajemen kawasan
7.Peringatan dini dan evakuasi
8.Manajemen dataran banjir

Slide 9
Storage reservoir: pelepasan tampungan dengan controlled variable gate
Retarding basin: pelepasan tampungan dengan fixed outlet 



ini sekedar info ni teman2 kuliah banjir dosennya bener2 beda sama dosen2 sebelumnya yang enak, santai, kalem, dan menyenangkan tapi ini serem banget, dia galak, banyak tugas, tegas kalo telat ga boleh ikut perkuliahan, dan tugas buat pertemuan minggu depan tuh disuruh aktif nanya, setiap orang wajib nanya ke dosennya pokoknya harus siap sama materi yang mau dikasih, harus rajin2 ke perpustakaan terus cari bahan sendiri di internet tentang banjir, kata dia duduk diam mendengarkan dan nulis materi kuliah dan ikut ujian dijamin dapet C ditangan, ati ati deh kawan.... siapin pertanyaan buat kuliah banjir minggu depan yaaa.... :) dan jangan lupa siapin tugas tentang banjir dari internet :D
 


Monday, December 14, 2009

kuliah pelabuhan terakhir

nih kawan2 materi kuliah yang kemarin, ini adalah materi kuliah pelabuhan terakhir (kuliah terakhir)

membahas masalah reklamasi, pengurukan laut, ponton, gambar pelabuhan, dll

silahkan didownload materi kuliah pelabuhan ini :

http://www.4shared.com/file/172538853/66709ba8/gambar_pelb.html
http://www.4shared.com/file/172554548/25f7aa2a/METODA.html
http://www.4shared.com/file/172559851/bf826841/reclam.html
http://www.4shared.com/file/172566674/e883b9c0/type2_kapal.html

semuanya power point

Monday, December 7, 2009

Metode Pekerjaan Sumpit

12. METODE KERJA PEKERJAAN SUMPIT
1. PROSEDUR PELAKSANAAN
1.1 PERSIAPAN
Sebelum memulai pekerjaan sumpit, semua bagian yang terlibat harus terlebih dahulu memahami bahwa semua kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan sumpit harus di dasarkan pada :
a. Spesifikasi.
b. Gambar desain dengan status “ For Construction “.
c. Risalah Lelang.
d. Shop Drawing.

1.1.1 Penyiapan shop drawing
Untuk mempermudah pelaksanaan di lapangan, maka harus dibuat gambar yang detail dan lengkap, gambar tersebut disebut gambar pelaksanaan atau shop drawing. Gambar pelaksanaan harus menggambarkan :
a. Gambar denah, menggambarkan posisi sumpit terhadap sumbu Underpass/Ramp lengkap dengan ukuran sumpit.
b. Gambar potongan sumpit harus menginformasikan ukuran, elevasi dan mutu beton yang dipakai yaitu K-350.
c. Gambar pembesian sumpit harus menginformasikan jenis, jumlah dan diameter besi serta jarak besi baik besi uatma maupun besi sengkang.
Semua gambar pelaksanaan harus mengacu pada gambar desain dengan status “ For Construction “, Spesfikasi dan Risalah Lelang. Gambar tersebut harus sudah di setujui pemberi tugas, sebelum di edarkan ke lapangan serta gambar yang beredar merupakan gambar dengan revisi terakhir.

1.1.2 Mempersiapkan bahan, tenaga kerja dan alat
A. Mempersiapkan bahan
Material yang akan di gunakan harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari pemberi tugas. Jenis material yang perlu mendapatkan persetujuan adalah sebagai berikut :
v Besi Beton.
v Campuran Beton melalui Trial Mix Design.
v Pasir urugan.


B. Mempersiapkan peralatan yang dipakai

Peralatan yang dipakai untuk mengerjakan pekerjaan sumpit antara lain :
v Perlengkapan bekisting.
v Bar cutter dan Bar bender (pembesian).
v Concrete vibrator.
v Bucket cor.
v Truck mixer
v Concrete Pump.
v Excavator.
v Dump truck.
v Scaffolding.


1.2 PELAKSANAAN

1.2.1 Galian Tanah
Galian tanah pada slab bawah di tambah 10 cm untuk lantai kerja ( lean concrete ). Setelah di laksanakan penggalian sedalam 10 cm, di lakukan survey stock out pada lokasi pekerjaan sumpit. Selanjutnya, lean concrete dapat di tuang untuk menjadi lantai kerja setebal 10 cm.


1.2.2 Besi Beton
Pekerjaan pembesian untuk sumpit terdiri dari dua bagian yaitu untuk :
1. Pembesian pelat lantai dasar.
2. Pembesian dinding sumpit.
3. Pembesian top slab (dilakukan setelah pengecoran dinding sumpit).


A. Fabrikasi Besi Beton
Fabrikasi di laksanakan dengan mempehatikan hal – hal sebagai berikut :
v Jenis besi utama dan besi pembagi.
v Diameter besi utama dan besi pembagi.
v Jumlah pembesian utama.
v Jarak besi pembagi.
v Overlap / panjang penyaluran antar besi beton harus sesuai spesifikasi.

B. Penyetelan Besi Beton
Penyetelan pembesian pada struktur bangunan harus sesuai dengan gambar kerja yang telah di setujui,. Penyetelan ini harusmemperhatikan hal – hal sebagai berikut :
a. Jenis dan jumlah besi beton.
b. Jarak tulangan sesuai gambar pelaksanaan.
c. Panjang penyaluran dan pengangkutan harus seuai dengan persyaratan.
d. Pemberhentian besi beton harus benar.
e. Ikatan antar besi beton harus kuat.
f. Jarak antar lapisan besi beton harus benardan kuat (tidak melendut).
g. Beton decking terbentuk dengan benar.



1.2.3 Bekisting
Pemasangan bekisting untuk sumpit terdiri dari dua bagian pokok, yaitu :
1. Bekisting plat lantai dasar
2. Bekisting dinding sumpit; dilakukan setelah pengecoran bottom slab.
A. Fabrikasi bekisting

Prinsip fabrikasi bekisting adalah :
a. kokoh (kuat)
b. berat bekisting harus di bawah kemampuan alat pengngkut
c. ketelitian (presisi) ukuran (siku, lurus, dimensi tepat)
d. mudah untuk penyetelan dan pembongkaran
B. Stel bekisting

Penyetelan bekisting untuk struktur horizontal (alas) dilakukan setelah pembesian dilaksanakan. Pada penyetelan bekisting harus dilakukan pengecekan terhadap : dimensi, ketegakan, ketinggian/elevasi, kerataan dan kekuatan penyangganya.

1.2.4 Pengecoran
Pengecoran untuk pekerjaan retaining wall terdiri dari dua bagian pokok, yaitu :
1. Pengecoran pelat lantai dasar.
2. Pengecoran dinding sumpit; dilakukan setelah penyetelan bekisting dinding sumpit.
Sebelum dilakukan pengecoran, terlebih dahulu dilaksanakan pengecekan terakhir (check list) terhadap pembesian dan pemasangan bekisting.

A. Penuangan beton

Untuk mendapatkan hasil beton yang baik maka cara penuangan harus benar yaitu :
a. Pengecoran harus kontinyu sejak pengecoran dimulai sampai mencapai siar pelaksanaan (sambungan) yang ditetapkan.
b. Beton harus dituang vertikal dan sedekat mungkin dengan bagian yang dicor. Jika diperlukan meratakan beton, harus dilakukan dengan sekop dan bukan membuat beton mengalir.
c. Beton tidak boleh dituangkan ke dalam bekisting dengan jarak yang tinggi (maksimum 2 m) karena akan mengakibatkan segregasi. Apabila tinggi lebih dari 2 m, maka harus memakai talang/corong/tremi.
d. Pengecoran harus dimulai dari sudut-sudut bekisting dan dari level terendah jika permukaannya miring.
e. Beton harus dituang pada tumpkan beton sebelumnya (overlapping) dan bukan jauh darinya.
f. Beton harus dicorkan dalam lapisan-lapisan datar, dan tiap lapisan harus dipadatkan sebelum lapisan dibawahnya mengeras. Untuk pengecoran dinding yang panjang sekali, dimana cara lapisan-lapisan horizontal akan menyebabkan terjadinya sambungan dingin (cold joint) pada beton, pengecoran harus dilakukan dengan ketinggian penuh yang akan membuat kemiringan pada permukaan beton.
g. Beton tidak boleh dicorkan pada saat hujan lebat tanpa penutup diatasnya, karena air hujan akan menurunkn mutu beton.



B. Pemadatan

Disamping cara penuangan yang benar, cara pemadatan yang benar juga merupakan faktor penting guna mencapai tujuan pembetonan. Cara pemadatan dengan vibrator yang benar yaitu :
a. Besarnya kepala vibrator harus disesuaikan dengan jenis struktur beton yang akan dicor dan jarak antar tulangan terkecil.
b. Vibrator harus dapat dimasukkan kedalam jaringan/anyaman besi beton dan harus diusahakan tidak menempel vibrator pada besi. Menggetarkan besi beton dapat mengakibatkan mutu beton menjadi jelek, dimana terjadi pengumpulan pasir disekitar besi, bahkan apabila besi digetarkan terus-menerus akan berakibat lebih kritis karena getaran ini merambat beton disampingnya yang sudah mulai mengeras, sehingga mengakibatkan retak atau terjadinya rongga antar besi dan beton. Rongga ini akan mengakibatkan bahaya korosi pada tulangan.
c. Tidak boleh meletakkan kepala vibrator terlalu lama dalam beton karena akan menyebebkan segregasi bleeding terutama untuk beton dengan slump tinggi. Lama penggetaran cukup antara 10 s/d 15 detik.
d. Kepala vibrator jangan terlalu dekat dengan bekisting karena apabila bekisting tergetar akan terbentuk lapisan pasir lepas dan juga dapat merusak bekisting. Jarak minimal kebikisting adalah10 cm.
e. Beton tidak boleh di getarkan berulang – ulang pada tempat yang sama, karena dapat mengakibatkan rongga – rongga udara di dalam betonnya.
f. Vibrator harus di masukkan ke dalam beton yang belum di padatkan secara tepat dan di angkat pelan – pelan. Kecepatan memasukkan vibrator di perlukan agar tidak sempat terjadi pemadatan awal pada beton lapisan atas sehingga menyulitkan lolosnya udara dan air yang terperangkap di bawahnya. Sedangkan pengangkatan harus dilakukan pelan-pelan untuk memberikan kesempatan vibrator menyalurkan secara penuh energi pemadatan pada beton. Kecepatan pengangkatan berkisar antara 4 s/d 8 cm/detik.
g. lapisan beton harus dicor secara rata sejak permulaan untuk memudahkan pengaturan sistem pemadatan dengan vibrator.
h. Untuk pengecoran struktur beton yang tinggi dan lebar, tiap lapisan beton yang paling efisien adalah 50 cm. Apabila tiap lapisan dibuat tebal akan menyulitkan udara dan ai yang terperangkap di lapisan bawahnya melepaskan diri keatas karena tekanan beton terlalu berat. Sebaliknya apabila terlalu tipis, tekanan beton tidak dapat mengimbangi pekerjaan vibrator.
i. Untuk menyambung lapisan bawah dengan lapisan diatasnya, vibrator harus dimasukan sebagian (kira-kira 10 s/d 15 cm) ke dalam lapisan dibawahnya agar tercipta lekatan yang monolik, paat dan menyatu.
j. Pada pengecoran plat beton yang tipis, vibrator boleh dimasukkan kedalam beton secara miring. Dalam hal ini vibrator akan menyentuh besi tulangan, tetapi harus diusahakan sedikit dan secepat mungkin.

1.2.5 Perawatan ( curing ) beton
Untuk menjaga agar proses hidrasi beton dapat berlansung dengan sempurna maka di perlukan curing untuk menjaga kelembabannya. Lamanya curing sekitar 7 hari berturut – turut mulai hari kedua setelah pengecoran. Curing dapat dilakukan dengan berbagai macam cara antara lain :
a. Menyemprotkan dengan lapisan khusus ( semacam Vaseline ) pada permukaan beton.
b. Membasahi secara terus menerus permukaan beton dengan air. Setelah proses curing, di lakukan pengurugan tanah kembali lapis demi lapis.

data2 proyek underpass pondok indah

BAB III
GAMBARAN UMUM PROYEK

3.1 Sejarah Proyek
Pada tahun 1997 pihak Metropolitan Kentjana merencanakan akan membangun dua pusat perbelanjaan yang bernama Pondok Indah Mall 1 dan pondok Indah Mall 2, kemudian untuk membuat sebuah proyek ini pihak Pemda DKI mensyaratkan untuk membangun Underpass di dekat persimpangan Jl.Metro Duta Niaga agar meminimalisir dampak kemacetan, Proyek dilaksanakan mulai pada tahun 1997 tetapi terhenti karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia, proyek ini terhenti hingga tahap pengecoran bored-pile sedangkan Pondok Indah Mall 1 sudah selesai dibuat, maka pada tahun 2004 pihak Metropolitan Kentjana melanjutkan kembali proyek yang terhenti tersebut dengan membangun Pondok Indah Mall 2 dan Underpass pondok Indah.

3.2 Data Umum

3.2.1 Lokasi Proyek
Pembangunan Underpass Pondok Indah ini menghubungkan Jl. Sultan Iskandar Muda dan Jl. Metro Pondok Indah. Dimana kedua jalan tersebut merupakan jalan penghubung pinggiran kota jakarta dengan pusat kota, yang selalu padat pada pagi dan siang harinya.
Kondisi lalu lintas di sekitar proyek sangatlah padat tiap harinya terutama pada persimpangan Pondok Indah Mall yang saat ini sedang dilaksanakan pembangunan underpass. Hal ini dikarenakan selain menjadi pusat bisnis, lokasi proyek juga merupakan pusat perbelanjaan dan hiburan bagi banyak warga Jabotabek. Selain itu jalan pondok indah ini merupakan akses bagi warga yang tinggal di wilayah pinggiran Jakarta untuk mencapai pusat kota.

3.2.2 Batas Wilayah Studi
Penentuan batas wilayah studi dilakukan dengan pertimbangan – pertimbangan yang sesuai dengan rencana kegiatan Pembangunan Underpass Pondok Indah meliputi batas proyek, batas ekologis, dan batas administrasi.
3.2.3 Batas Proyek
Sebelah Utara : Jl. Sultan Iskandar Muda.
Sebelah Timur : Jl. Margaguna, Mal Pondok Indah I, Masjid Raya Pondok Indah, dan Kawasan Niaga.
Sebelah Selatan : Jl. Metro Pondok Indah.
Sebelah Barat : Jl. Kartika Utama, Mal Pondok Indah II, Wisma Pondok Indah, Pemukiman Penduduk.

3.2.4 Batas Ekologis
Proyek pembangunan Underpass Pondok Indah ini akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan diperkirakan berupa bertambahnya arus lalu lintas dan menimbulkan kemacetan akibat penyempitan badan jalan.Batas ekologi ini merupakan kondisi alam yang berada di sekitar kegiatan konstruksi, batas ini berupa daerah aliran sungai, jalan raya maupun ekosistem dari suatu kegiatan yang saling berhubungan dengan kegiatan yaitu ekosistem pemukiman didaerah Pondok Indah.

3.2.5 Batas Sosial
Batas sosial berada pada masyarakat sekitar lokasi kegiatan proyek, tepatnya disekitar pemukiman terdekat dengan lokasi proyek. Dimana masyarakat yang berada pada daerah pemukiman ini sebagian besar merupakan masyarakat menengah keatas.

3.3 Data Umum Proyek

1. Nama Proyek : Pembangunan Underpass Pondok Indah
2. Pemilik Proyek : PT. METROPOLITAN KENCANA
3. Konsultan Pengawas : PT. PERENCANA JAYA
4. Konsultan Perencana : PT. PERENCANA JAYA
5. Kontraktor : PT. JAYA KONSTRUKSI M. P.
6. Sub Kontraktor : - PT. JAYAMIX. ( Produksi Beton )
- PT. TALENTA. ( Galian dan Angkutan Tanah )
- PROKLA ( Precast Saluran )
- RUSA DAHADA ( Straighting )
7. Konsultan Biaya : PT. DAVIS LANGDON & SEAH INDONESIA
8. Kontrak
- Nilai Kontrak : Rp. 19,253,057,025.00
( Tanpa PPN 10% )
- Tanggal Kontrak : 19 Oktober 2004
- Nomor Kontrak : 065 / PIM2 / X / 2004

9. Waktu Pelaksanaan
- Mulai : 19 Oktober 2004
- Selesai : 01 Juni 2005
10. Waktu Pemeliharaan
- Mulai : 01 Juni 2005
- Selesai : 01 Juni 2006
11. Jenis Pekerjaan : Underpass
12. Lokasi Proyek
- Propinsi : DKI Jakarta
- Kotamadya : Jakarta Selatan
- Alamat : Jl. Sultan Iskandar Muda, Pondok Indah
13. Kuantitas Pekerjaan
- Deskripsi Proyek : Pembuatan Underpass
- Luas Bangunan : 8000 m2
- Fungsi : Peningkatan Kelancaran Lalu Lintas dan Menghilangkan titik pertemuan pada persimpangan dari / menuju arah Pondok Indah Mall.
3.4 Data Teknis Proyek
Data proyek Underpass Pondok Indah adalah sebagai berikut :
1. Nama Proyek : Pembangunan Underpass Pondok Indah.
2. Panjang Total : 411 m
3. Ramp Utara :
a. Panjang : 175 m
b. Lebar : 16.4 m ( 4 lajur – 2 arah ) dengan median.
c. Kelandaian : 5 %
d. Struktur Dinding : - Bored Pile existing ø 800
- Dinding Cover Bored Pile t = 25 cm. K – 350
( fc’= 29 Mpa )
- Panel Cover Precast / GRC
- Retaining wall. K-350 ( fc’ = 29 Mpa )
e. Bottom Slab : Beton Bertulang K – 300 ( fc’ = 29 Mpa )
f. Finishing slab Bawah: Hotmix AC tebal 10 cm

4. Terowongan ( Box Tunel )
a. Panjang : 70 m
b. Lebar : 17,5 m ( 4 lajur – 2 arah ) dengan median
c. Kelandaian : 0,47 %
d. Clearance : 4,6 m
e. Bentuk Konstruksi : Box Tunel dengan tiang BP ø 60 cm pada median.
f. Struktur Pondasi : Bored Pile ø 88 cm ( secant pile )
g. Struktur Pondasi : Bored Pile ø 88 cm dengan penutup panel precast
h. Struktur Top Slab : Beton Bertulang K-350 ( fc’ = 29 Mpa )
I. Struktur Bottom Slab: Beton Bertulang K-300 ( fc’ = 29 Mpa )
J. Finishing Slab : Hotmix AC tebal 10 cm

5. Ramp Selatan
a. Panjang : 166 m
b. Lebar : 17,5 m ( 4 lajur – 2 arah ) dengan median
c. Kelandaian : 5%
d. Stuktur Dinding : - Bored Pile Secant Pile ø 88 cm
- Pondasi Cover Precast / GRC
- Retaining Wall K-350 ( fc’ = 29 )
e. Bottom Slab : Beton Bertulang K-300 ( fc’ = 29 )
f. Finishing Slab : Hotmix AC tebal 10 cm

6. Sumpit : - Fungsi sebagai bak penampung air hujan
- Kapasitas + 1000 m3
- Dimensi : 17 m x 3,3 m x 20m
- Konstruksi : Beton Bertulang
- Sistem 1 ( satu ) blok
- Metode pengurasan menggunakan Submersible Pumps terdiri dari :
4 unit pompa utama kapasitas 125 ltr/detik
2 unit pompa utama kapasitas 25 ltr/detik
- lokasi terdapat dibawah muka jalan / lantai kendaraan

7. Rumah Genset : - Fungsinya untuk Rumah Jaga, Dudukan Genset dan Dudukan Panel – panel
- Konstruksi Beton bertulang
- Lokasi / Posisi di daerah pulau sisi timur persimpangan
- Sumber Daya Listrik : - PLN
- Genset 150 KVA
3.5 Ruang Lingkup Pekerjaan Proyek Underpass Pondok Indah
Proyek Pembangunan Underpass Pondok Indah Meliputi :
Ø Pekerjaan Pengukuran
Ø Pekerjaan pemasangan bored pile.
Ø Pekerjaan caping beam.
Ø Pekerjaan tanah.
Ø Pekerjaan retaining wall.
Ø Pekerjaan drainase : sub drain (Geotekstil).
Ø Rigit pavement + flexible.
Ø Cover Wall.
Ø Pembuatan rumah pompa dan pemasangan pompa.
Ø Pekerjaan instalasi listrik dan penerangan jalan umum.
Ø Pekerjaan pot bunga.

3.5.1 Pekerjaan Pengukuran
Pekerjaan pengukuran adalah pekerjaan untuk menentukan posisi letak bangunan underpass sesuai dengan desain baik center line underpass maupun stack out dari detour – detour yang akan dibuat.


3.5.2 Pekerjaan Bored Pile
Pekerjaan Bored pile ini hanya pada ramp bagian selatan, dimana pekerjaan bored pile yang lainnya telah dilaksanakan pada tahun 1997. Pekerjaan Bored pile ini menggunakan Beton K – 350.

3.5.3 Pekerjaan Caping Beam
Pekerjaan ini adalah pekerjaan memotong kepala bored pile, selain itu pekerjaan ini bertujuan agar mempermudah dalam pelaksanaan pekerjaan lainnya.

3.5.4 Pekerjaan Tanah
Untuk pekerjaan tanah ini terdiri dari pekerjaan penggalian tanah, timbunan dan pengangkutan tanah. Penggalian dibuat sedemikian rupa sehingga pada saat hujan air tidak menggenang di tempat galian, sehingga aktivitas penggalian tidak terganggu. Pengamanan ini bisa digunakan pompa dan drainase sehingga pembuangan air lancar. Pada pekerjaan ini alat berat banyak digunakan diantaranya excavator, Bulldozer, Dup Truck dll.

3.5.5 Pekerjaan Retaining Wall
Retaining wall ini dimaksudakan sebagai pengganti bored pile pada bagian awal underpass. Selain itu juga bored pile bertujuan sebagai penahan tanah dan lalu lintas.
3.5.6 Pekerjaan Drainase Sub – drain ( geotextile )
Pekerjaan drainase ini menggunakan beton precast, untuk alairan air hujan yang jatuh di jalan underpass akan dibuang ke sumpit. Dikarenakan muka air tanah di proyek Underpass Pondok Indah ini berada pada kedalaman yang tidak terlalu dalam maka perlu dipasang serat geotextile agar air tanah tidak naik ke permukaan tanah.

3.5.7 Rigid Pavement + Flexible
Perkerasan jalan menggunakan perkerasan kaku ( Rigid Pavement ) dengan menggunakan beton K - 350, dan kemudian dilapisi aspal untuk kenyamanan berkendara.

3.5.8 Cover Wall
Cover wall adalah pekerjaan yang bertujuan untuk menutup existing bore pile yang dipasang sepanjang jalan dan underpass. Diharapkan dengan dibuatnya retaining wall ini tidak terjadi longsor pada jalan diatasnya karena lalu lintas kendaraan yang terjadi. Pekerjaan ini terdiri dari pekerjaan perakitan besi tulangan, fabrikasi bekisting, dan pekerjaan pengecoran.



3.5.9 Pembuatan Rumah Pompa dan Pemasangan Pompa
Rumah pompa ini diletakkan pada salah satu pulau jalan yang berada di persimpangan jalan menuju jalan margaguna. Rumah pompa ini digunakan untuk memompa air hujan yang berada di ruang sumpit.

3.5.10 Pekerjaan Instalasi Listrik dan Penerangan Jalan Umum.
Pekerjaan instalasi listrik ini dimaksudkan untuk pengoperasian rumah pompa dan penerangan bagi jalan underpass.

3.5.11 Pekerjaan Pot Bunga
Pekerjaan pot bunga ini adalah pekerjaan tambahan bagi penghijauan underpass. Departemen Pekerjaan Umum mensyaratkan adanya pot bunga sebagai langkah penghijauan dari jalur underpass.